WORKSHOP PENYELENGGARAAN MATURITAS SPIP BAGI FASILITATOR/SATGAS SPIP DAN ASSESOR DI LINGKUNGAN BMKG

Jakarta – Senin (02/7), Workshop penyelengaraan SPIP bagi Fasilitator/Satgas SPIP dan Assesor di Lingkungan BMKG dilaksanakan selama 2 (dua) hari dimulai dari tanggal 28 s.d 29 Juni 2018 bertempat di Ruang Rapat Gedung A lantai I BMKG Jakarta. Workshop dibuka oleh Sestama BMKG, Drs. Untung Merdijanto, M.Si, turut hadir Direktur PLP Bidang Perekonomian Lainnya BPKP Drs Ramli Midian Sihombing, Ak, MM, CA, CFra, QIA.  Kepala Biro Perencanaan BMKG, Drs. Nasrullah. Kepala Biro Umum dan Sumber Daya Manusia, Drs. Yusuf Supriyadi, MT. Kepala Biro Hukum dan Organisasi BMKG, Darwahyuniati, SH, MH. Serta para peserta dari Satuan Tugas SPIP di lingkungan BMKG Pusat. Adapun yang menjadi narasumber adalah Auditor Madya BPKP Bapak Wahyu Sanjaya dan Ibu Th. Supriyati.

Dalam sambutannya Sestama BMKG menyampaikan bahwa target Indikator Kinerja Tingkat Kematangan Penyelenggaraan SPIP Kementerian/Lembaga pada tahun 2019 adalah level 3. Untuk BMKG sendiri telah dilakukan evaluasi tingkat kematangan SPIP tahun 2016 dan 2017 oleh tim quality assurance BPKP dengan memperoleh nilai masing-masing 2,694 dan 2,808 dimana hasil penilaian tersebut masuk pada kategori “tingkat berkembang”.

Salah satu rekomendasi perbaikan oleh tim quality assurance BPKP yang telah dilaksanakan oleh BMKG yaitu membuat peraturan Kepala BMKG tentang penyelenggaraan SPIP yang tertuang dalam Perka BMKG Nomor 2 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan SPIP. Perka ini sendiri telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai BMKG melalui website BMKG (Jaringan Data dan Informasi Hukum).

Pada akhirnya Sestama BMKG berharap agar seluruh peserta workshop dapat mengikuti dan menyerap materi yang disampaikan oleh nara sumber serta menerapkannya dalam setiap kegiatan sehingga dapat meningkatkan dan mencapai target nilai maturitas penyelenggaraan SPIP BMKG pada level 3. Disamping itu Sestama BMKG juga berharap bahwa hasil penilaian maturitas SPIP dilingkungan BMKG bukan hanya sekedar mencapai target skor level 3 yang diamanahkan pada RPJMN, akan tetapi yang terpenting dapat menerapkan SPIP dan membawa konsekuensi bahwa kesadaran akan pentingnya penilaian risiko dan aktivitas pengendalian tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab top manajemen, namun tersebar kepada seluruh anggota organisasi, tidak hanya sampai kepada unit dan bagian organisasi yang terkecil, tetapi sampai ke individu. Seluruh anggota organisasi harus memandang pengendalian sebagai alat untuk mencapai sasaran birokrasi yang bersih dan akuntabel.

 

 

Leave a Reply